HEADERWEB3

 

Selamat Datang Di Website Resmi Pengadilan Agama Maumere, Kami siap Memberikan Pelayanan yang Prima Untuk Anda...

Written by Super User on . Hits: 100


1

HAKIKAT WASKAT (Ibrah Dari Kisah Sesendok Madu)

Alkisah, seorang Raja dari sebuah kerajaan yang sangat dihormati dan dipatuhi oleh rakyatnya berkeinginan mengetahui hakikat kepatuhan rakyat kepadanya. Apakah mereka hormat dan patuh karena dorongan kesadaran murni yang datang dari dalam hati, ataukah hanya karena perilaku mereka diawasi atau terlihat langsung oleh sang Raja. Pada suatu hari, dia pun mengadakan sebuah acara untuk semua rakyatnya, dan diumumkanlah bahwa Raja akan meletakkan sebuah bejana kosong di suatu tempat dan raja memerintahkan agar seluruh rakyatnya mendatangi tempat dimaskud pada malam hari dengan membawa sesendok madu untuk dimasukkan ke dalam bejana yang sudah diletakkan sang Raja tadi. Tiba pada malam hari yang telah ditentukan, seluruh rakyat mulai berdatangan silih berganti menuju tempat diletakkannya bejana untuk diisi madu. Di antara sekian rakyat yang datang pada malam itu ada yang sejak dari rumahnya berpikiran bahwa dia akan mengisi sendok yang dibawanya dengan air, bukan dengan madu, karena dia tidak memiliki atau menyimpan madu. Dalam hatinya dia berkata bahwa sang Raja pasti tidak akan mengetahui apa yang dia bawa pada malam yang gelap, jadi dia tidak perlu bersusah payah mencari madu untuk diisikan ke dalam bejana sang Raja. Lagi pula, hanya sesendok air tidak akan terlihat bila dicampurkan dengan ratusan atau ribuan sendok madu yang akan dibawa oleh rakyat lain selain dirinya, demikian bisikan hati dari rakyat yang membawa sesendok air.

Singkat cerita, malam acara pengisian bejana raja dengan madu telah berlalu, sudah tidak ada lagi rakyat yang mendatangi tempat diletakkannya bejana. Semua rakyat telah berpartisipasi dalam acara sang Raja yang menginstruksikan seluruh rakyatnya untuk mengisikan sesendok madu ke dalam bejana yang telah diletakkannya di suatu tempat. Kemudian Raja memerintahkan pengawalnya supaya membawa bejana tersebut ke hadapannya karena sang Raja ingin mengecek dan mengetahui isi dari bejana yang diletakkannya. Setelah bejana berada di hadapan sang Raja, dia pun menumpahkan bejana yang sudah terisi penuh, dan sang Raja kemudian terbengong demi melihat apa yang keluar dari bejana yang ditumpahkannya, karena yang tumpah keluar dari bejana tersebut adalah hampir seluruhnya air bukan madu sebagaimana yang dia minta dalam perintah kepada rakyatnya.

Mengapa bejana sang Raja penuh terisi air bukan terisi madu? Rupanya apa yang menjadi pikiran salah seorang rakyat yang memasukkan sesendok air ke dalam bejana sang Raja juga menjadi pikiran sebagian besar rakyat lainnya ketika hendak menunaikan perintah sang Raja pada malam hari yang telah ditentukan. Mereka berpikiran bahwa gelapnya malam akan menyembunyikan air yang mereka masukkan ke dalam bejana dari pengetahuan sang Raja, dan bahwa hanya sesendok air tidak akan terlihat bila telah dicampur dengan madu yang banyak.

Fiksi di atas bila dihubungkan dengan kehidupan di dunia nyata, baik dalam konteks kehidupan individual maupun komunal kemasyarakatan, akan terasa memiliki kesamaan, terutama sekali bila dikaitkan dengan fenomena masih banyaknya kejahatan dan maraknya pelanggaran di masyarakat terhadap norma, tatanan, dan peraturan yang berlaku. Telaah yang mendalam terhadap fenomena tersebut menyampaikan pada setidaknya dua kesimpulan. Pertama, bahwa terjadinya pelanggaran atau kejahatan dengan beragam sifat dan bentuknya adalah karena didorong oleh keyakinan pelakunya bahwa sejauh pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan bisa ditutupi sehingga luput dari pengetahuan dan pengawasaan pihak berwenang maka pelakunya akan terbebas dari pertanggungjawaban. Keyakinan ini mendorong manusia yang berpikiran dangkal untuk membuat siasat dan muslihat supaya kejahatan yang dilakukan tidak terlihat orang lain, sekalipun yang bersangkutan boleh jadi menyadari substansi kejahatan itu. Keyakinan ini analog dengan keyakinan rakyat yang membawa sesendok air, bukan madu, karena berpikiran bahwa gelapnya malam akan menutupi perbuatannya. Kedua, pelanggaran atau kejahatan terjadi karena pelakunya berpikiran bahwa kejahatan yang dia lakukan tidak akan berdampak pada orang lain atau masyarakat secara keseluruhan. Orang seperti ini seolah-olah berkata dalam dirinya bahwa masih banyak orang lain yang berbuat baik, sehingga kejahatan dia seorang diri tidak akan terlihat karena akan tertutup oleh kebaikan dari orang lain. Padahal, ketika pikiran seperti dia ternyata juga ada dalam pikiran individu yang lain, kejahatan bisa berdampak massif, seperti halnya bagaimana bejana sang Raja, dalam fiksi di atas, faktanya penuh terisi air padahal titah sang Raja adalah supaya rakyatnya mengisi bejana dengan madu.

Kesadaran akan selalu ada “pihak” yang mengawasi setiap perbuatan yang dilakukan memiliki peran signifikan dalam pengendalian pelanggaran dan kejahatan di mana dan di manapun pun mulai dari lingkup terkecil, seperti kehidupan individu dan keluarga, hingga lingkup lebih luas, seperti kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi. Inilah hakikat dari apa yang disebut dengan pengawasan melekat (waskat). Dengan kesadaran ini, setiap individu mengawasi dirinya masing-masing atas setiap perbuatan yang dilakukan dalam menjalani kehidupan.

Pertanyaannya adalah kepada siapa individu menyandarkan kesadarannya akan perasaan selalu merasa diawasi. Dalam hal ini setiap individu pasti memiliki pegangan nilai yang berbeda-beda, salah satunya adalah nilai agama yang mengajarkan adanya Zat yang Maha Mengetahui, yaitu Tuhan. Sejauh menyangkut ajaran Islam telah dikenal apa yang dinamakan dengan muraaqabah, yaitu kesadaran atau keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi, melihat, mendengar, dan mengetahui segala apa yang dilakukan hamba-Nya di manapun dan kapanpun. Ajaran ini, antara lain didasarkan pada firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat al-Mujaadalah [58] ayat 7 yang artinya berbunyi:

“Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Doktrin ini menjadi tempat dan tautan nilai bagi seorang beriman ketika berbuat dan berperilaku dalam menjalani kehidupannya. Dia diyakinkan dan didorong untuk selalu berbuat kebajikan karena bukan saja setiap perbuatannya diawasi dan diketahui Allah SWT tetapi juga karena buah dari perbuatan tersebut akan kembali kepadanya dalam bentuk balasan di akhirat.

Uraian di atas sama sekali tidak menafikan pentingnya instrument hukum dan pengawasan dari institusi Negara dalam menegakkan setiap norma dalam masyarakat. Instrument tersebut tetap diperlukan selamanya, karena merupakan sunatullah akan selalu ada individu-individu yang bermental rusak. Kesadaran merasa selalu diawasi akan memainkan peran sendiri dalam mencegah individu dari melakukan pelanggaran dan kejahatan, sehingga ia menjadi sangat penting untuk dimiliki oleh dan tertanam dalam diri setiap orang. Atas dasar itu, ia harus menjadi salah satu doktrin moral dalam pendidikan keluarga yang harus ditanamkan dan dipupuk sejak dini oleh setiap orang tua kepada anak-anaknya untuk melahirkan generasi yang jujur dan baik. Wallahu a’lam.

 

Alamat Kami

kantor

Jln. Diponegoro, Kel.Wolomarang
Kec.Alok Barat Kab.Sikka - NTT 86115
Telp. (0382) 21134 / 23514
Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Website : pa-maumere.go.id

noname

Pengadilan Agama Maumere | 2019